Suara sangat tidak merdu yang dinyanyikan Mendagri minggu lalu, benar-benar telah mengganggu harmonisasi irama yang dikumandangkan menyongsong bergulirnya Liga Indonesia XIII.
M. Machruf dan beberapa kalangan hanya melihat sisi negatif: Kucuran dana APBD untuk klub hanya menjadikan dana untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan anggaran pembangunan lainnya tidak optimal, karena sebagian dana dikuras untuk klub dengan prestasi yang menurutnya tidak pantas.
Nada minor lain yang disebutkan adalah, kucuran APBD itu hanya menjadi alat kendaraan politik agar bupati atau walikota terpilih lagi pada pemilihan berikut.
Inilah wajah negara yang baru keluar dari kandang keterkungkungan, pendulum kita cenderung bergerak ke arah ekstrem: Setiap langkah selalu saja dikait-kaitkan dengan politik. Juga ketika pendulum ada di sebaliknya: Ketika masih terkungkung, dengan bisik-bisik selalu saja ditiupkan rumours politik. Masalah yang sebenarnya sederhana, jadi melebar kesana-kemari.
Dana APBD bagi klub, sami mawon, jadi konsumsi politik juga. Sedemikian salah kaprahnya beberapa anggota DPRD berpikir; membandingan kucuran dana klub dibandingkan dengan anggaran pendidikan dan kesehatan. Lia Nurhambali dalam wawancara dengan Bandung TV mengatakan: Dana Tunjangan anggota DPRD hanya 2,5 M, bandingkan katanya dengan Persib yang 15M. Saudara, pernyataan ini betul-betul tidak nyambung, dan salah konteks
Mengapa? Sebab yang betul adalah: Pendidikan penting, kesehatan penting, bikin jalan penting, dan Persib? juga penting.
Apa pentingnya dana bagi Persib?
Kolom saya yang terbatas jelas tidak akan cukup menampung penjelasan tentang urgensi mengapa Persib dan klub-klub harus disokong APBD. Tapi, saya coba saja walaupun terbatas:
Membangun bangsa, juga harus disertai membangun moral dan spirit. Orde baru gagal total karena basis pembangunan hanya bersandar pada fisik semata.
Kebudayaan, kesenian, dan olahraga tidak tersentuh dengan baik. Bahkan dipinggirkan. Padahal jangan lupa, ketahanan bangsa, bisa dibangun lewat olahraga. Jadi kalau ada penyimpangan tentang mekanisme bantuan, pelaporan yang sering dianggap tidak rinci, ya benerin saja, bukannya harus distop. Nyamuk satu, kok rumah yang dibakar, kelewatan sekali!
Pak Maruf dan anggota dewan pasti terkejut, kalau akibat Persib, Eka Ramdani lebih dipuja ketimbang David Beckham. Tidak percaya? Mangga jalan-jalan, dan tanya anak-anak SMP. Zainal Arief, dicintai disamping bintang film F-4 dari Taiwan itu. Banyak kamar anak muda memasang poster mereka. Sungguh sangat luar biasa, ketika banyak orang muda Indonesia berpaling ke barat, karena tidak menemukan pemimpin panutan di negerinya, di Bandung, sebagian dari mereka mulai mencintai anak bangsanya sendiri.
Sedikit lagi: Negara adidaya Amerika menggelontorkan uang milyaran dollar untuk amerikanisasi dunia lewat film dan kebudayaan serta NBA. Kita? 15M saja hebohnya minta ampun.
Sungguh, ada yang salah dengan cara berpikir kita. Ngaco banget, Sumpah!
No comments:
Post a Comment