Wednesday, April 18, 2007

Soal Stadion itu (Lagi) dan Nonton Bareng Persib

40.000 orang bobotoh berdesakkan di stadion Siliwangi yang berkapasitas hanya 18.000, pada Rabu sore kemarin. Aparat kepolisian riweuh mengendalikan penonton yang mengalir dari seluruh antero Jawa Barat. Setelah masuk ke stadion, sebagian dari mereka malah memaksa duduk sampai di bibir lapang.

Kang Dada yang ditemui –pas, seusai pertandingan, garuk-garuk kepala, kapasitas stadion Siliwangi sudah tidak cukup lagi, paparnya. Dan seperti dimuat Tabloid Bobotoh beberapa edisi yang lalu, masalah ini harus segera di atasi, jika tidak ingin badai anarkistis menerpa kita. Obtolan ringkas dengan Pak Wali kemudian diketahui, bahwa Pemkot sangat bersungguh-sungguh untuk segera membangun Sarana Olah Raga di Gede Bage yang sudah diwacanakan mulai tahun 2002an itu, dan akan segera dimulai pada awal 2007 ini –kalau tidak mundur lagi.

Namun, walau pun pembangunannya dapat dimulai tepat waktu, tetap saja tidak bisa “..jleg!!” seketika. Dibutuhkan waktu dua – tiga tahun untuk merealisasikannya.

Lalu bagaimana mengantisipasi jumlah penonton yang akan mengalir datang pada kompetisi yang rodanya segera akan diputar ini? Padahal hitung-hitungannya, semakin dekat kompetisi digelar, dipastikan animo masyarakat juga meningkat. Artinya, boleh jadi, yang ingin menyaksikan pertandingan secara langsung akan lebih dahsyat lagi dari jumlah 40.000 kemarin. Jika sudah demikian, masalah serius akan muncul. Padahal pertandingan Liga penuh dengan aturan, yang jika dilanggar –khususnya pasal-pasal mengenai ketertiban penonton, bisa mengakibatkan Persib terkena sanksi.

Apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi ini ?

Yang pertama, tentu sikap kita dalam menyaksikan Persib bertanding. Mau itu di Si Jalak Harupat atau pun di Stadion Siliwangi, dibutuhkan sikap dewasa. Bobotoh harus memahami bahwa cinta kepada Persib juga harus ditunjukkan dengan sikap tertib saat menonton. Di Stadion Siliwangi, ketika tiket sudah habis, haruslah tidak memaksa masuk. Bobotoh yang menyadari, tentu akan dengan sukarela mendengar lewat radio atau menonton televisi.

Televisi, khususnya TVRI Jabar dan Banten, sebagai TV publik, juga haruslah berperan serta. Siaran langsung akan membantu sedikit menahan penonton berduyun-duyun datang ke stadion. Tidak ada anggaran operasional? Mulailah dari sekarang mencarinya. Kita semua ikut bertanggung jawab. Hotel-hotel dan kantor-kantor bisa ikut membuat acara nonton bareng di tempatnya. Demikian juga di kampung-kampung. Warga yang memiliki TV agak besar, bisa memberikan partisipasi dengan membuat nonton bareng, seperti piala dunia kemarin. Andai ini semua bisa kita lakukan –secara bersama-sama, Bandung telah membuat lagi satu icon terobosan kegiatan algi, selain kota wisata belanja dengan factory outlet-nya, nonton bareng Persib di berbagai tempat dapat menjadi sumber kebahagiaan baru –ditengah sumpeknya kehidupan saat ini. Wilujeng berkiprah!

No comments: