Dukungan terhadap Tabloid Bobotoh, dari bobotoh, sangat membahagiakan. Tabloid habis dalam hitungan hari. Ini luar biasa dan membuat kami terharu. Sebagai penggiat media yang telah menggeluti beberapa tahun di Bandung, kami pernah merasakan pahit getirnya menerbitkan media di kota kita tercinta; di tengah kompetisi yang sangat ketat serbuan media Jakarta. Terimakasih kami ucapkan untuk bobotoh semua. Sekali lagi, thx! hatur nuhun!
Bulan lalu, ketika saya didorong-dorong harus menerbitkan tabloid ini, dan mulai secara aktif ngabandungan Persib, saya baru sadar, jaman sudah berubah. Sebagai pecinta produk lokal, kosakata saya tentang pemain asing banyak yang kurang. Tahu teh cuma Adeng Hudaya, Ajat Sudrajat, Sobur, Roby Darwis, Dede Iskandar. Pemain asing, saya agak klenger, tidak mengerti. Namun, sekarang, sekurang-kurangnya ada dua pemain, dan satu pelatih yang saya tahu, Barkaoui, Kosin, serta Arcan Iurie. Semuanya saya baca di Pikiran Rakyat dan SMS bobotoh, saat saya lagi lieur baca politik tentang anggota DPR yang jalan-jalan ke luar negeri, dan lumpur panas yang tak selesai-selesai ditangani.
Pemain asing ternyata sekarang sudah jadi bagian dari Persib. Pemain asing yang skillnya bagus –apalagi kasep dan entertaining, mendatangkan banyak penonton. Sekarang bahkan banyak wanita datang ke stadion. Segmen bobotoh naik kelas, dari si tukang ngaruksak lamun eleh, menjadi flamboyan dan wangi. Barangkali, dukungan ini membuat DPRD oke mengeluarkan dana belasan milyar dari APBD. Persib sudah dikategorikan lokomotif penggerak ekonomi dan… politik.
Jadi ceritanya mah, saya ketinggalan jaman weh. Itu pula yang melatarbelakangi kekolotan pemikiran saya: Kenapa harus colorful untuk halaman-halaman Tabloid Bobotoh? Black and white saja, yang penting isi tulisannya harus berbobot, edukatif, dan seimbang. Dengan tumpuan cetak pada warna hitam putih, maka biaya produksi koran bisa ditekan, dengan demikian harga jual juga bisa rendah, sehingga banyak orang mau baca koran karena harganya terjangkau. Jadi yang cerdas, santun, dan berbudaya tambah banyak.
Yah, namanya saya Pemimpin Umum, anak-anak setuju walau mungkin menggerutu. Eehhh, ternyata setelah terbit, komentar pembaca: “ Tabloid Bobotoh tuh bagus, ngaaann… hanjakal kertasnya rumeuk,ipis, dan poek (maksudnya kurang tata warna, mungkin -red) gak bonafid ah! Warnanya perbanyak dong, gak apa-apa harganya naik!”.
Waaahh, lagi-lagi saya ketinggalan. Jaman sudah berubah. Sekarang memang jaman MTV. Jadi, saya mengalah (lagi) setelah pemain asing, mulai edisi ini, untuk lebih memuaskan pembaca, kami rubah dulu warnanya, 24 halaman, semuanya full color! Harga masih tetap. Nah.. mudah-mudahan makin enak dilihat. Selamat membaca!
No comments:
Post a Comment